Jumat, 14 Juni 2024

BIOGRAFI BJ HABIBIE

 BJ. Habibie

Biografi BJ. Habibie | Tokoh Nasional - Untuk rubrik biografi, kali ini blog diary ini akan mengetengahkan profile dan biography seorang tokoh nasional yang tentunya tidak asing lagi dikalangan politikus dan anak muda, yaitu B.j Habiebie.


Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar, namun ia harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung saat ia sedang shalat Isya.


Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunya kemudian menjual rumah dan kendaraannya dan pindah ke Bandung bersama Habibie, sepeninggal ayahnya, ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya terutama Habibie, karena kemauan untuk belajar Habibie kemudian menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.



Karena kecerdasannya, Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk di ITB (Institut Teknologi Bandung), Ia tidak sampai selesai disana karena beliau mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman, karena mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia maka ia memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH)Ketika sampai di Jerman, beliau sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar di sana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliaulah yang memiliki paspor hijau atau swasta dari pada teman-temannya yang lain Musim liburan bukan liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka; lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.

Beliau mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5, Dengan gelar insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Pada saat itu Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.


Setelah itu beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean kemudian Habibie menikah pada tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman, hidupnya makin keras, di pagi-pagi sekali Habibie terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat kebutuhan hidupnya kemudian pulang pada malam hari dan belajar untuk kuliahnya, Istrinya Nyonya Hasri Ainun Habibie harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci baju untuk menhemat kebutuhan hidup keluarga. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Rumus yang di temukan oleh Habibie dinamai "Faktor Habibie" karena bisa menghitung keretakan atau krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga ia di juluki sebagai "Mr. Crack". Pada tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung. dari tempat yang sama tahun 1965. Kejeniusan dan prestasi inilah yang mengantarkan Habibie diakui lembaga internasional di antaranya, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l'Air et de l'Espace (Prancis) dan The USAcademy of Engineering (Amerika Serikat). Sementara itu penghargaan bergensi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.


Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.


Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia ke 3. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.

Pada tanggal 22 Mei 2010, Hasri Ainun Habibie, istri BJ Habibie, meninggal di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum, Muenchen, Jerman. Ia meninggal pada hari Sabtu pukul 17.30 waktu setempat atau 22.30 WIB. Kepastian meninggalnya Hasri Ainun dari kepastian Ali Mochtar Ngabalin, mantan anggota DPR yang ditunjuk menjadi wakil keluarga BJ Habibie. Ini menjadi duka yang amat mendalam bagi Mantan Presiden Habibie dan Rakyat Indonesia yang merasa kehilangan. Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas.


Pada Awal desember 2012, sebuah film yang berjudul "Habibie dan Ainun" diluncurkan, film ini Mengangkat kisah nyata tentang romantisme kedua saat remaja hingga menjadi suami istri dan saat ajal memisahkan mereka. Film yang diambil dari buku terlaris karya BJ Habibie, Film ini di garap oleh dua sutradara yaitu Faozan Rizal dan Hanung Bramantyo, dengan pemeran Reza Rahardian sebagai Habibie dan Bunga Citra Lestari sebagai Ainun Habibie.

Sebagian Karya beliau dalam menghitung dan mendesain beberapa proyek pembuatan pesawat terbang :

  • VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
  • Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
  • Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
  • Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
  • CN - 235
  • N-250

Dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:

· Helikopter BO-105.
· Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
· Beberapa proyek rudal dan satelit.

Sebagian Tanda Jasa/Kehormatannya :

  1. 1976 - 1998 Direktur Utama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara/ IPTN.
  2. 1978 - 1998 Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
  3. Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi / BPPT
  4. 1978 - 1998 Direktur Utama PT. PAL Indonesia (Persero).
  5. 1978 - 1998 Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam/ Opdip Batam.
  6. 1980 - 1998 Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (Keppres No. 40, 1980)
  7. 1983 - 1998 Direktur Utama, PT Pindad (Persero).
  8. 1988 - 1998 Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis.
  9. 1989 - 1998 Ketua Badan Pengelola Industri Strategis/ BPIS.
  10. 1990 - 1998 Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia/lCMI.
  11. 1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
  12. 10 Maret - 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
  13. 21 Mei 1998 - Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia

Ref:
http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id
http://www.e-smartschool.com/
http://kolom-biografi.blogspot.com/

Label: , , , , , , , , , ,

Selasa, 05 Juli 2022

Kisah Putri Tirim dan Joko Jenon

 

Sejarah Dusun SOBO

Dusun Sobo berada kurang lebih 2 Km utara kantor Kabupaten Kediri, tepatnya termasuk wilayah Desa Nambakan Kec. Ngasem Kab. Kediri. Penduduknya sekarang diperkirakan lebih dari 2000 kepala. Seperti halnya tempat-tempat ataupun dusun-dusun lain, Dusun Sobo memiliki sejarah tersendiri bagaimana awal mulanya serta mengapa bisa dinamakan “Sobo”.
Dari keterangan yang saya dapatkan, ada dua versi tentang sejarah munculnya Dusun Sobo, meskipun dari sumber yang sama. Berikut ini dua versi tentang sejarah Dusun Sobo:
Versi pertama:
Versi ini berbentuk seperti cerita rakyat. Alkisah ada seorang gadis bernama Putri Tirim yang tinggal di hulu sungai yang sekarang ini masih mengalir melewati Dusun Sobo. Dia terkenal cantik jelita, hingga kecantikannya di dengar oleh seorang pemuda yang bernama Joko Jenon. Joko Jenon tinggalnya di hilir sungai tersebut.
Mendengar berita tentang kecantikan Putri Tirim, tergugahlah hati Joko Jenon. Di dalam benaknya timbul niat untuk memperistri sang Putri. Maka berangkatlah Joko Jenon ke hulu sungai dengan perahunya untuk menemui Putri Tirim. Dan benar terbukti bahwa Putri Tirim memang cantik. Makin mantab niatnya untuk meperistri sang putri.
Tapi ternyata keinginan Joko Jenon tidak semudah itu diterima oleh Putri Tirim. Sang putri mengajukan persyaratan yang lumayan berat bagi Joko. Syaratnya yaitu dia harus memberikan emas sebanyak satu kukusan (tempat untuk memasak nasi yang berbentuk kerucut terbuat dari bambu) sebagai mas kawinnya.
Tetapi karena Joko Jenon sudah terlanjur menginginkan Putri Tirim, maka persyaratan itupun disanggupinya. Dia kembali ke hilir tempatnya tinggal. Dia mengambil emas-emas yang dimilikinya dan dimasukkan kedalam kukusan nasi. Setelah itu ia berangkat kembali ke hulu menyusuri sungai dengan perahunya.
Namun sial baginya. Dia tidak mengetahui bahwa kukusan yang dipakainya ternyata bocor. Dan tanpa sepengetahuannya, emas-emas tersebut jatuh sedikit demi sedikit di sepanjang sungai. Dan sesampainya di hulu, dia baru menyadari bahwa emas-emasnya telah jatuh di sepanjang sungai. Putri Tirim kecewa dan Joko Jenonpun pulang tanpa membawa istri yang di inginkannya.
Mendengar berita tentang tersebarnya emas-emas Joko Jenon di sepanjang sungai tersebut, maka banyak orang yang sobo (berkunjung) ke sungai tersebut untuk mencari emas-emasnya. Dan akhirnya mereka tinggal di sekitar sungai tersebut membentuk suatu dusun dan dinamakan Dusun Sobo.
Dan mitosnya sampai sekarang, penduduk Sobo tidak akan berhasil menikah dengan penduduk Desa Sambi Rejo, yaitu desa yang terletak di sekitar hilir sungai Sobo, tempat tinggal si Joko Jenon. Jika tetap dipaksakan menikah, maka akan ada musibah yang datang menimpa, bisa di pihak suami ataupun istri. Istilahnya “syarate abot”,  maksudnya syaratnya berat.
Mengenai kebenaran cerita tersebut memang belum dapat dipastikan. Tetapi dapat dijumpai di sekitar hulu dan hilir sungai berupa batu-batu berbentuk balok, seperti bukan berasal dari batu yang terbentuk secara alami, melainkan sengaja dibuat untuk bangunan. Juga sering ditemukan pula pecahan benda-benda kuno seperti alat-alat rumah tangga. Tetapi berasal darimana benda-benda tersebut belum diketahui dan tidak ada perhatian khusus dari penduduk setempat.
Versi Kedua :
Versi berikut ini menurut sumbernya yaitu Mbah Supiah, merupakan cerita asli dari Mbah Sholeh yang menurutnya mengalami sendiri sejarah terjadinya Dusun Sobo. Mbah Sholeh sendiri adalah bapak dari Mbah Musripan yang merupakan suaminya Mbah Supiah.
Menurutnya, sebelum terbentuk Dusun Sobo, dulunya wilayah tersebut hanya dihuni segelintir orang saja. Bisa dikatakan wilayah tersebut belum punya nama. Dan dari orang-orang yang tinggal tersebut, banyak yang menjadi “maleng cilek”, maksudnya pencuri kelas teri, meskipun tidak semuanya. Barang-barang yang biasa dicuri biasanya berupa ayam, beras, dan segala jenis barang-barang rumah tangga yang bernilai kecil.
Dalam menjalankan aksinya, mereka tidak melakukannya di wilayahnya sendiri. Melainkan “sobo” di kampung-kampung tetangga. Sehingga penduduk sekitar yang mengetahuinya menamai wilayah tersebut Sobo, maksudnya yaitu tempat para pencuri kelas teri yang sering sobo ke kampung-kampung lain untuk mencuri. Seiring berjalannya waktu, tentu saja budaya tersebut lenyap. Sekarang Dusun Sobo sudah dipenuhi oleh para keturunan penduduk asli dan juga para pendatang.


Kalau memang cerita ini benar, maka dapat diperkirakan Dusun Sobo terbentuk sekitar tahun 1900-an sesuai dengan masa hidupnya Mbah Sholeh, sumber yang mengalaminya, kemudian menceritakannya kepada Mbah Musripan anaknya, kemudian diceritakan lagi kepada Mbah Supiah, istri Mbah Musripan.
Dari kedua versi di atas memang masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Karena tidak ada bukti kongkrit maupun tekstual, hanya melalui cerita turun temurun saja.
Sumber : Mbah Supiah
link asli
https://syafa-gila.blogspot.com/2011/02/sejarah-dusun-sobo.html?sc=1657072127469#c781423525293182656

Label: , , ,